Medialontar.com – Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Bogor usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terungkap penyebabnya. Hasil uji laboratorium mengonfirmasi adanya kontaminasi dua jenis bakteri berbahaya, yakni Salmonella dan Escherichia coli (E. coli), dalam bahan makanan dan air yang digunakan.
Hingga Rabu (14/5/2025), jumlah korban tercatat mencapai 233 orang. Mereka berasal dari jenjang pendidikan taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari total korban, 45 siswa harus dirawat inap, 49 menjalani rawat jalan, sementara 129 lainnya hanya mengalami gejala ringan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam konferensi pers menyatakan bahwa kontaminasi bakteri ditemukan pada bahan baku makanan, termasuk telur, sayuran, serta air yang digunakan dalam pengolahan. Ia menyebutkan bahwa para siswa tidak mencurigai makanan yang dikonsumsi karena tampak normal seperti biasanya.
“Kontaminasi ditemukan di beberapa titik, mulai dari air, bahan baku, sampai sayuran. Ini menjadi peringatan penting bagi kita semua untuk memperbaiki standar operasional prosedur (SOP) agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Dadan menegaskan bahwa kasus keracunan MBG di Bogor memiliki karakteristik berbeda dibanding insiden serupa di daerah lain. Ia menyebut reaksi gejala di Bogor tergolong lambat. Makanan dikonsumsi pada hari Selasa, tetapi gejala baru dirasakan secara signifikan pada Rabu hingga Jumat.
Menurutnya, situasi tersebut membuat pelayanan MBG masih berjalan seperti biasa di awal, sebelum akhirnya jumlah keluhan meningkat dan Dinas Kesehatan Kota Bogor turun tangan. Setelah dilakukan penilaian lapangan, Pemkot Bogor resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada Jumat (12/5).
Sebagai respons atas insiden tersebut, layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bosowa Bina Insani dihentikan sementara. Lokasi ini sebelumnya menjadi salah satu pilot project layanan MBG karena dinilai memiliki fasilitas yang memadai dan bersih.
“Kita hentikan sementara layanan di Bosowa Bina Insani sampai evaluasi menyeluruh selesai. Walaupun selama ini tidak ada masalah, standar kebersihan dan higienitas harus lebih ditingkatkan,” ujar Dadan.
BGN memastikan bahwa inspeksi telah dilakukan di lokasi tersebut. Meskipun kantin sekolah tersebut sebelumnya dianggap salah satu yang terbaik di kota Bogor, Dadan menilai peningkatan standar layanan tetap diperlukan. Ia menekankan bahwa operasional SPPG akan kembali dibuka setelah seluruh persyaratan kebersihan terpenuhi.
Pemerintah Kota Bogor mengimbau seluruh siswa yang merasakan gejala serupa untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Upaya pencegahan lanjutan tengah dirumuskan agar program MBG dapat kembali berjalan dengan aman dan efektif.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara program MBG di berbagai wilayah. Pemeriksaan ketat terhadap bahan baku, air, dan proses distribusi makanan dinilai menjadi hal mutlak demi menjaga kesehatan peserta didik.















