Medialontar.com – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyambut positif keputusan tarif impor sebesar 19 persen untuk produk Indonesia ke Amerika Serikat (AS) yang diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Menurutnya, kesepakatan ini menjadi peluang penting bagi peningkatan ekspor nasional dalam jangka menengah hingga panjang.
Anindya menilai bahwa hasil negosiasi pemerintah merupakan capaian signifikan, terutama karena dicapai di tengah situasi neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus terhadap AS. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini harus diapresiasi karena memberikan ruang strategis bagi pertumbuhan perdagangan bilateral.
“Pertama, selamat kepada pemerintah. Karena menurut saya, apa yang telah disepakati itu bagus untuk Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (22/7/2025).
Meski begitu, ia memahami adanya pertanyaan publik mengenai mengapa tarif tidak bisa ditekan lebih rendah. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, angka 19 persen dianggap masih cukup kompetitif. Ia menyebut Meksiko dikenakan tarif sebesar 35 persen, Tiongkok 30 persen, sementara Inggris hanya 10 persen namun dengan kondisi neraca dagang yang defisit terhadap AS.
“Memang banyak yang menanyakan, kenapa 19%? Tidak lebih rendah lagi. Tapi ini relatif terhadap posisi kita. Indonesia mencatat surplus 18 miliar dolar AS dalam perdagangan dengan Amerika, jadi wajar jika ada tarif. Tapi ini lebih baik dibanding potensi tarif 32 persen yang sebelumnya sempat dibahas,” jelasnya.
Di sisi lain, Anindya menilai kesepakatan ini sebagai momentum strategis untuk mendorong lonjakan ekspor Indonesia ke pasar AS. Ia optimistis dalam lima tahun ke depan, nilai perdagangan bilateral bisa mencapai dua kali lipat dari kondisi saat ini.
“Kalau perdagangan kita sebelumnya berada di angka 40 miliar dolar AS, dalam lima tahun bisa menembus 80 miliar dolar AS. Kita perlu melihat dari sudut pandang keuntungan yang bisa diraih oleh Indonesia,” ujarnya.
Untuk memaksimalkan peluang tersebut, Kadin berencana mengadakan pertemuan dengan pelaku industri nasional. Sektor-sektor yang akan menjadi fokus antara lain tekstil, garmen, alas kaki, hingga elektronik. Anindya menekankan pentingnya kesiapan industri dalam negeri dalam menghadapi lonjakan permintaan yang mungkin terjadi.
“Jangan sampai kemudahan ini justru dimanfaatkan oleh negara lain yang memiliki biaya produksi lebih tinggi, hanya karena kita belum siap secara kapasitas,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Kadin akan menghitung secara detail kebutuhan investasi untuk memperkuat kapasitas produksi nasional, potensi peningkatan perdagangan, serta peluang penciptaan lapangan kerja baru.
“Kita ingin mendapatkan tiga angka penting: berapa banyak investasi yang dibutuhkan, seberapa besar nilai perdagangan bisa tumbuh, dan berapa banyak lapangan kerja yang bisa terbuka,” tutupnya.
Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah dan dunia usaha, Anindya yakin Indonesia mampu mengambil manfaat maksimal dari kesepakatan ini demi mendongkrak daya saing ekspor nasional di pasar global.















