Medialontar.com – Dunia kesehatan kembali menjadi sorotan setelah kabar meninggalnya Marojahan Sintong Sijabat, ayah dari influencer dan YouTuber asal Surabaya, Jerome Polin. Marojahan mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit National Hospital Surabaya pada Kamis (30/10/2025), usai menjalani perawatan intensif akibat gangguan serius pada sistem pencernaan dan pernapasan.
Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan Marojahan sempat menurun secara mendadak. Jerome Polin melalui akun media sosialnya sempat mengabarkan bahwa sang ayah berada dalam kondisi kritis dan meminta doa agar segera pulih. Tak berselang lama, kabar duka datang dari sang kakak, Jehian Sijabat, yang mengonfirmasi bahwa ayah mereka telah berpulang pada sore hari.
Dari keterangan pihak keluarga dan pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Darmo Satelit, diketahui bahwa Marojahan mengalami penyumbatan pada bagian usus yang kemudian menimbulkan komplikasi serius hingga ke paru-paru. “Karena disinyalir ada penyumbatan di usus lalu kemudian ada pendarahan di paru-paru dan itu menyebabkan penyumbatan di paru-paru,” ungkap Pendeta Andri Purnawan yang sempat mendampingi keluarga di rumah sakit.
Penyumbatan usus atau intestinal obstruction merupakan kondisi medis yang menyebabkan aliran isi usus terhenti, baik akibat sumbatan mekanis seperti tumor, peradangan, atau perlengketan jaringan, maupun karena gangguan fungsi otot usus. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memicu komplikasi berat seperti infeksi, sepsis, hingga kegagalan organ.
Dalam kasus Marojahan, kondisi tersebut diperparah dengan adanya pendarahan di paru-paru. Gangguan ini menyebabkan fungsi pernapasan menurun drastis dan menghambat pasokan oksigen ke tubuh. Kombinasi antara penyumbatan usus dan gangguan paru dapat menimbulkan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan intensif di ruang ICU.
Pendeta Andri menuturkan, selama dirawat di rumah sakit, almarhum ditopang oleh alat bantu pernapasan dan mendapat pengawasan medis penuh. Namun, kondisi terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis siang. “Tadi pagi saya sempat mendampingi keluarga ketika di ICU, ditopang penuh alat bantu. Tapi saya sudah tidak bisa berkomunikasi, hanya mendampingi dan mendoakan,” ujarnya.
Sebelum kondisi kesehatannya menurun, Marojahan dikenal aktif dalam kegiatan rohani dan memiliki gaya hidup yang cukup sehat. Ia bahkan sempat memimpin doa dan khotbah di beberapa gereja di Surabaya dan Batu beberapa hari sebelum dirawat. Hal ini menunjukkan bahwa gejala awal penyakitnya muncul secara mendadak tanpa tanda-tanda serius sebelumnya.
Para tenaga medis menilai, kasus seperti ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin. Penyumbatan usus sering kali diawali dengan gejala ringan seperti nyeri perut, mual, muntah, atau sulit buang air besar, namun dapat berkembang cepat menjadi kondisi kritis jika diabaikan.
Selain itu, faktor usia dan aktivitas juga berpengaruh terhadap risiko gangguan pencernaan dan sistem pernapasan. Pola makan tinggi lemak, kurang serat, serta stres dapat memperburuk kondisi usus, sementara paparan polutan dan penyakit infeksi bisa memicu gangguan paru.
Kini, jenazah Marojahan Sintong Sijabat disemayamkan di Rumah Duka Grand Heaven, Taman Sidoarjo. Kabar kepergian ayah Jerome menjadi peringatan bagi banyak orang tentang pentingnya menjaga kesehatan organ vital dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala tidak biasa.
Kehilangan ini sekaligus menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa kesehatan dapat berubah sewaktu-waktu, bahkan pada mereka yang terlihat sehat dan aktif.















