Medialontar.com – Pemerintah terus mematangkan pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang akan dimulai secara nasional pada 14 Juli 2025. Program ini menjadi salah satu inisiatif unggulan Presiden dalam rangka mewujudkan generasi anak Indonesia yang lebih sehat, aman, terlindungi, serta memperoleh pendidikan berkualitas.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat melakukan peninjauan di Sekolah Rakyat rintisan di Sentra Handayani, Jakarta Timur, menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak Indonesia melalui pendidikan inklusif dan bermutu. Dalam kunjungannya, ia didampingi oleh Menteri Sosial Syaifullah Yusuf, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Saat ini, terdapat 100 sekolah rintisan yang telah disiapkan sebagai langkah awal implementasi. Sebagian besar sekolah ini merupakan hasil revitalisasi aset di bawah kewenangan Kementerian Sosial. Sekolah-sekolah tersebut akan digunakan selama satu tahun sebagai transisi sebelum Sekolah Rakyat permanen dibangun secara menyeluruh.
Menteri PU Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa total anggaran pembangunan fisik untuk 100 sekolah rintisan mencapai Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun. Anggaran ini sudah mencakup perabotan serta perlengkapan pendidikan lainnya. Hingga akhir Juni 2025, pembangunan fisik telah mencapai progres sekitar 80 persen secara nasional, dengan Sentra Handayani mencatatkan angka tertinggi sebesar 92 persen.
Dalam hal sumber daya manusia, Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menyampaikan bahwa sekolah rintisan telah merekrut sekitar 3.000 guru. Ditambah dengan tenaga kependidikan lainnya, total personel pendidikan yang disiapkan mencapai 7.000 orang. Jumlah siswa yang akan mengikuti pembelajaran di sekolah rintisan ini ditargetkan mencapai 20.000 anak.
Selain sekolah rintisan, pemerintah juga menyiapkan pembangunan 100 Sekolah Rakyat permanen. Setiap sekolah akan berdiri di atas lahan seluas enam hektare yang telah disediakan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah. Menurut Menteri PU, setiap sekolah permanen akan dibangun dengan biaya Rp200 miliar. Fasilitasnya dirancang lengkap, mulai dari ruang belajar, mebel, asrama, hingga sarana penunjang lainnya.
Saat ini, 60 dari 100 titik lahan telah tersedia dan siap dibangun. Proses pembangunan fisik dijadwalkan akan dimulai pada September 2025 dan ditargetkan selesai pada Juni 2026. Sekolah permanen ini akan mulai beroperasi pada tahun ajaran baru, yakni Juli 2026. Masing-masing unit ditargetkan mampu menampung hingga 1.000 siswa.
Dengan pendekatan komprehensif dari sisi infrastruktur, SDM, dan kurikulum, Sekolah Rakyat diharapkan dapat menjadi solusi nyata untuk menjembatani kesenjangan akses pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Pemerintah juga menekankan pentingnya seleksi siswa berdasarkan data faktual, memastikan hanya anak-anak yang benar-benar membutuhkan yang memperoleh manfaat dari program ini.
Program Sekolah Rakyat menjadi tonggak baru dalam sistem pendidikan nasional, mengedepankan nilai keadilan sosial dan pemerataan pendidikan. Peluncurannya diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi masa depan generasi muda Indonesia.















