Medialontar.com – Seorang perempuan muda di Dallas, Amerika Serikat, menjadi sorotan publik setelah pengalamannya menjalani tren diet karnivora berujung pada kondisi kesehatan yang serius. Peristiwa ini menyita perhatian karena diet tersebut tengah populer di media sosial dan kerap dipromosikan oleh sejumlah figur publik sebagai pola makan yang efektif menurunkan berat badan.
Perempuan tersebut adalah Eve Catherine, seorang influencer berusia 23 tahun. Melalui unggahan di media sosial, ia menceritakan secara terbuka perjalanan diet yang dijalaninya hingga akhirnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat gangguan ginjal. Kisah ini pun memicu diskusi luas mengenai keamanan diet ekstrem yang dilakukan tanpa pengawasan medis.
Pada awalnya, Eve mengikuti pola makan yang sangat terbatas. Setiap hari, ia mengonsumsi telur sebagai menu sarapan. Kemudian, ia memilih yogurt dengan kandungan protein tinggi untuk makan siang. Pada malam hari, ia menutup asupan makanannya dengan steak daging sapi. Seluruh menu tersebut didominasi oleh produk hewani dan hampir tidak menyertakan sumber pangan lain seperti buah, sayur, atau biji-bijian.
Dalam beberapa waktu pertama, Eve mengaku tidak merasakan keluhan berarti. Ia bahkan merasa kondisi tubuhnya baik-baik saja. Namun, situasi mulai berubah ketika ia menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menemukan kadar protein yang sangat tinggi dalam urinenya. Temuan itu menjadi indikasi awal adanya gangguan pada fungsi ginjal.
Seiring waktu, kondisi kesehatannya memburuk. Eve mulai mengalami rasa nyeri yang hebat hingga akhirnya mengalami gejala yang tidak biasa. Ia mengungkapkan bahwa suatu pagi ia terbangun dan mendapati adanya darah saat buang air kecil. Kondisi tersebut membuatnya panik dan segera mencari pertolongan medis.
Akibat gejala yang dialami, Eve dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tim medis memberikan perawatan intensif guna meredakan nyeri yang ia rasakan. Ia bahkan harus menerima obat penghilang rasa sakit yang kuat. Setelah melalui serangkaian tindakan medis, dokter menyatakan bahwa Eve mengalami batu ginjal, yang kemudian berhasil dikeluarkan.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik bagi Eve dalam memandang pola makan yang ia jalani. Setelah melalui proses perawatan, ia menyampaikan penyesalan atas keputusannya mengikuti diet karnivora tanpa pertimbangan matang. Ia secara terbuka mengkritik pola makan tersebut dan menyebutnya sebagai keputusan yang berisiko. Menurut pengakuannya, dorongan untuk mengonsumsi protein dalam jumlah besar telah membuatnya mengabaikan keseimbangan nutrisi.
Kasus ini menjadi perhatian karena diet karnivora kerap digambarkan secara positif oleh sebagian influencer. Banyak di antaranya menampilkan hasil penurunan berat badan atau peningkatan massa otot dalam waktu singkat. Namun, pengalaman Eve menunjukkan bahwa dampak diet tidak selalu sama bagi setiap orang dan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius.
Para ahli kesehatan menilai diet karnivora sebagai pola makan yang sangat restriktif. Diet ini menghilangkan hampir seluruh sumber serat karena tidak memasukkan buah dan sayuran ke dalam menu harian. Akibatnya, pelaku diet berpotensi mengalami gangguan pencernaan dan masalah metabolisme dalam jangka panjang.
Selain itu, konsumsi daging merah secara berlebihan juga menjadi perhatian. Kandungan lemak jenuh yang tinggi dinilai dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Kondisi tersebut berisiko memicu penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah. Beberapa penelitian juga mengaitkan pola makan ekstrem dengan potensi peradangan dalam tubuh serta percepatan penuaan sel.
Pengamat kesehatan menegaskan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Oleh karena itu, pola makan yang cocok bagi satu orang belum tentu aman bagi orang lain. Diet yang dilakukan tanpa variasi pangan dan tanpa konsultasi dengan tenaga medis dinilai berisiko, terutama jika dijalani dalam jangka panjang.
Peristiwa yang dialami Eve Catherine menjadi pengingat bahwa tren kesehatan yang viral di media sosial perlu disikapi dengan hati-hati. Masyarakat diimbau untuk tidak serta-merta meniru pola makan ekstrem yang dipromosikan figur publik. Konsultasi dengan ahli gizi atau tenaga kesehatan tetap menjadi langkah penting sebelum menerapkan perubahan besar dalam pola makan sehari-hari.















