Medialontar.com – Sebanyak 137 Kepala Keluarga di Dusun Sumber Langsep, Desa Jugosari, Kabupaten Lumajang, masih bertahan di kawasan perbukitan setelah banjir lahar Gunung Semeru kembali menerjang wilayah permukiman mereka. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu dan mengakibatkan puluhan rumah terendam material vulkanik dengan ketinggian mencapai beberapa meter. Hingga Minggu malam, warga belum dapat kembali ke rumah karena kondisi di sekitar aliran sungai masih dinilai berbahaya.
Informasi dari perangkat desa menyebutkan bahwa banjir lahar datang secara tiba-tiba ketika hujan intens melanda wilayah hulu. Arus lahar yang membawa pasir, batu, dan material guguran melaju deras melalui Sungai Regoyo. Material ini kemudian masuk ke permukiman warga Sumber Langsep dan menenggelamkan 15 rumah. Warga yang berada di lokasi langsung mengamankan diri dengan naik ke perbukitan terdekat.
Perangkat Desa Jugosari menjelaskan bahwa warga memilih bertahan di titik yang lebih tinggi karena hawa panas dari lahar serta munculnya letusan sekunder di area Semeru. Suhu ekstrem dan arus yang belum stabil membuat warga kesulitan untuk kembali melakukan aktivitas di rumah masing-masing. Hingga malam hari, situasi belum banyak berubah dan potensi banjir lahar susulan tetap ada.
Imbauan Tetap Siaga di Perbukitan
Pada hari sebelumnya, petugas kebencanaan telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Kondisi hulu sungai yang masih dipenuhi material vulkanik membuat risiko banjir lahar tetap tinggi, terutama ketika curah hujan kembali meningkat. Oleh sebab itu, warga diminta tetap berada di perbukitan sementara petugas melakukan pemantauan lanjutan.
Petugas di lapangan menyampaikan bahwa arus lahar masih terlihat mengalir di Sungai Regoyo. Material vulkanik yang terbawa aliran memiliki volume besar sehingga jalur sungai sulit dilewati. Kondisi ini membuat warga belum bisa turun dari lokasi pengungsian sementara. Selain itu, akses menuju dusun juga terputus karena jalan yang biasa dilalui tertutup material lahar.
Distribusi Bantuan Logistik Melalui Jalur Sungai
Hari ini, distribusi bantuan logistik untuk warga yang terisolasi dilakukan melalui jalur yang tidak biasa. Petugas BPBD mengirimkan bantuan menggunakan mobil ranger dan melintasi aliran Sungai Regoyo sejauh 300 meter. Langkah tersebut diambil karena jalur darat utama belum dapat digunakan akibat endapan material vulkanik yang menutup akses.
Petugas gabungan memastikan bahwa pendistribusian kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan perlengkapan darurat berjalan efektif. Selama perjalanan, tim harus berhati-hati melewati aliran lahar yang masih aktif di beberapa titik. Meski begitu, seluruh logistik berhasil tiba di lokasi warga yang mengungsi di perbukitan.
Pejabat daerah yang memantau kondisi lapangan menegaskan bahwa kebutuhan mendesak warga telah terpenuhi. Namun, petugas tetap memperkirakan adanya tambahan pengungsian jika hujan deras kembali mengguyur lereng Semeru. Pemerintah kabupaten juga terus melakukan koordinasi terkait penanganan lanjutan dan evakuasi apabila diperlukan.
15 Rumah Tenggelam oleh Material Lahar
Dalam proses bantuan tersebut, petugas mendapatkan data lanjutan terkait jumlah rumah yang terdampak banjir lahar. Hasil pendataan menunjukkan bahwa ada 15 rumah warga yang tenggelam akibat luapan lahar dari Semeru. Material pasir dan batu yang masuk ke rumah mencapai ketinggian sekitar 4 meter. Dari permukaan tanah, hanya bagian atap rumah yang masih terlihat.
Selain merusak rumah warga, banjir lahar juga berdampak pada tempat ibadah dan area perkebunan. Sebuah bangunan masjid di dusun itu ikut tertutup material vulkanik, sementara kebun warga mengalami kerusakan cukup berat. Tanaman yang berada di jalur lahar rusak total dan tidak dapat diselamatkan.
Kerusakan yang meluas ini menimbulkan kekhawatiran lanjutan mengenai masa pemulihan. Warga yang rumahnya hilang terendam material vulkanik terpaksa bermukim sementara di titik pengungsian. Mereka masih menunggu proses pembersihan dan langkah rehabilitasi yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah.
Kondisi Masih Fluktuatif, Warga Diminta Tetap Tenang
Hingga Minggu malam, situasi di wilayah terdampak belum menunjukkan tanda-tanda stabil sepenuhnya. Awan mendung di wilayah hulu menjadi perhatian penting karena setiap hujan deras berpotensi kembali memicu banjir lahar. Petugas masih bersiaga di sekitar aliran sungai untuk memastikan tidak ada warga yang kembali ke permukiman sebelum kondisi benar-benar aman.
Meski demikian, warga yang mengungsi di perbukitan terus mendapat dukungan logistik. Pemerintah daerah telah menyiapkan langkah lanjutan terkait kemungkinan relokasi sementara apabila situasi memburuk. Di sisi lain, tim kebencanaan juga melakukan pemetaan risiko agar penanganan berikutnya lebih terarah.
Bencana lahar dari Semeru ini mengingatkan kembali pada ancaman yang sering muncul saat memasuki musim hujan. Material vulkanik sisa erupsi sebelumnya menjadi pemicu utama banjir lahar ketika bercampur dengan curah hujan tinggi. Oleh karena itu, kewaspadaan warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di Semeru perlu terus ditingkatkan.
Dengan kondisi yang masih dinamis, warga berharap penanganan cepat dan pemulihan bisa segera dilakukan agar mereka dapat kembali beraktivitas seperti semula. Untuk sementara, keselamatan tetap menjadi prioritas utama hingga situasi di Dusun Sumber Langsep benar-benar pulih.













