JAKARTA – Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Kakorlantas Polri), Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menegaskan bahwa pengelolaan arus mudik Lebaran 2026 difokuskan pada tiga aspek utama: menjamin keamanan perjalanan masyarakat, menjaga kelancaran arus lalu lintas, serta menekan angka kecelakaan secara signifikan. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan kerja dan doorstop di Command Center KM 29 Tol Jakarta–Cikampek, Kamis (19/3/2026).
Memasuki puncak arus mudik, Korlantas Polri mencatat adanya kepadatan kendaraan pada sejumlah titik, terutama di ruas Tol Jakarta–Cikampek hingga jalur menuju Jawa Tengah. Lonjakan volume kendaraan dari arah Jakarta dan Jawa Barat menyebabkan antrean panjang serta pergerakan arus lalu lintas menjadi padat merayap, khususnya di titik krusial seperti akses keluar tol.
Meski demikian, kondisi tersebut tetap dalam kendali penuh. Kakorlantas menyatakan bahwa berbagai langkah rekayasa lalu lintas telah diterapkan secara terukur dan situasional, mencakup pengaturan arus, penutupan akses sementara pada titik tertentu, serta pelaksanaan skenario darurat guna mengurai kemacetan kendaraan.
“Seluruh upaya ini kami lakukan agar arus tetap bergerak. Fokus kami jelas: aman, lancar, dan kecelakaan bisa ditekan,” tegas Kakorlantas.
Pengendalian lalu lintas tidak hanya dilakukan di jalur tol dan jalan arteri, tetapi juga diperluas ke kawasan perkotaan. Dalam Operasi Ketupat 2026, Polri bersama sejumlah pemangku kepentingan menerapkan strategi pengamanan berbasis lima klaster. Klaster tersebut meliputi pengamanan wilayah perkotaan, penjagaan rumah kosong, pengawasan lokasi wisata, pengamanan terminal dan bandara, serta pengaturan jalur alternatif menuju pusat aktivitas masyarakat seperti tempat ibadah.
Masing-masing klaster didukung oleh satuan tugas khusus yang terdiri dari satgas preventif, satgas penegakan hukum, hingga pengamanan objek vital. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menyeluruh untuk menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendukung kelancaran mobilitas masyarakat selama periode mudik dan arus balik.
Selain itu, pembatasan operasional kendaraan logistik, khususnya truk dengan sumbu tiga, diterapkan sebagai kebijakan strategis untuk mengurangi kepadatan serta risiko kecelakaan. Kendaraan berat dianggap menyebabkan perlambatan arus dan meningkatkan potensi kecelakaan di jalur utama.
“Kami mengimbau kendaraan logistik besar tidak beroperasi saat arus balik. Berikan ruang bagi pemudik agar perjalanan lebih aman dan lancar,” ujar Kakorlantas.
Pemantauan lalu lintas dilakukan secara real-time melalui Command Center KM 29 yang terintegrasi dengan pengawasan di lapangan. Selain itu, sejumlah skenario rekayasa lalu lintas seperti one way lokal di kawasan wisata dan titik-titik rawan kepadatan telah disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.
Kakorlantas menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan arus mudik tidak hanya diukur dari kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga dari penurunan angka kecelakaan.
“Keberhasilan kami adalah ketika masyarakat bisa mudik dengan aman, arus tetap lancar, dan angka kecelakaan menurun,” pungkasnya.
Dengan sinergi Polri dan seluruh pemangku kepentingan, arus mudik Lebaran 2026 dipastikan berjalan lebih tertib, terkendali, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat hingga sampai di kampung halaman.















