BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung mendorong peningkatan cakupan vaksinasi human papillomavirus (HPV) sebagai langkah pencegahan kanker serviks. Dinas Kesehatan Kota Bandung menargetkan 97 persen perempuan di wilayah tersebut mendapatkan vaksinasi, dengan anak perempuan kelas V sekolah dasar menjadi salah satu kelompok sasaran utama program pemerintah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Sony Adam, menyebut cakupan vaksinasi telah mencapai sekitar 90 persen. Untuk kelompok siswi kelas V SD, pemerintah menargetkan pemberian vaksin kepada 16.000 anak. Program ini diharapkan memperluas perlindungan sejak dini terhadap risiko penyakit yang berkaitan dengan infeksi HPV.
Selain mengandalkan program imunisasi bagi anak sekolah, pemerintah juga mendorong akses vaksinasi bagi masyarakat umum. Salah satu upayanya dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang menggelar vaksinasi HPV bersubsidi bagi perempuan.
Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis UPI ke-72. Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Tri Indri Hardini, menjelaskan bahwa penyelenggara menyediakan kuota hingga 1.000 peserta. Program ini mendapat dukungan subsidi dari Korpri pusat.
Hingga pelaksanaan kegiatan pada Oktober 2026, sekitar 400 orang telah mendaftar, termasuk peserta yang mendaftarkan diri langsung di lokasi. Dengan demikian, masih tersedia kesempatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan kuota yang tersisa selama pendaftaran masih dibuka.
Vaksin bersubsidi tersebut ditawarkan dengan harga Rp290.000 per dosis. Biaya ini jauh lebih rendah dibandingkan harga normal yang disebut dapat mencapai Rp1,2 juta. Selisih harga tersebut diharapkan membantu mengurangi hambatan biaya bagi perempuan yang ingin memperoleh perlindungan melalui vaksinasi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi dan edukasi pada 6 Oktober. Peserta kemudian mengikuti vaksinasi dosis pertama. Sementara itu, dosis kedua dijadwalkan pada Januari dan dosis ketiga pada April. Peserta perlu mengikuti jadwal lanjutan sesuai ketentuan program agar rangkaian vaksinasi berjalan sebagaimana direncanakan.
Penyelenggara juga menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari kegiatan. Informasi mengenai manfaat, jadwal, dan prosedur vaksinasi diperlukan untuk membantu masyarakat memahami upaya pencegahan kanker serviks. Langkah ini sekaligus memberi ruang bagi calon peserta untuk menyampaikan pertanyaan sebelum mengikuti vaksinasi.
HPV merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan berbagai infeksi. Jenis HPV tertentu menjadi penyebab utama kanker serviks. Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah pencegahan yang penting, bersama pemeriksaan kesehatan sesuai rekomendasi tenaga medis.
Perluasan akses vaksinasi di Bandung menunjukkan pentingnya kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat dalam mendukung kesehatan publik. Meski demikian, pencapaian target cakupan tetap memerlukan edukasi berkelanjutan, akses yang terjangkau, serta partisipasi masyarakat agar upaya pencegahan kanker serviks dapat menjangkau lebih banyak perempuan.











